Label

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

Perihal Biasa dan Tak Biasa

Bagi anak-anak laut, bagi bapak-bapak nelayan, dan bagi ibu-ibu petani garam
Adalah perihal yang biasa mereka lihat angin mencipta riak
Belanja di mall,baru luar biasa

Bagi anak-anak laut, bagi bapak-bapak nelayan, dan bagi ibu-ibu petani garam
Bukan perihal istimewa ketika mereka lihat senja ditelan ombak
Naik wahana di taman wista, baru istimewa

Sebab hari-hari, merekalah saksi atas atraksi yang angin dan ombak lakoni

Anak-anak laut lain dengan anak-anak kota
Bapak-bapak nelayan berbeda dengan bapak-bapak karyawan
Ibu-ibu petani garam pun tak sama dengan ibu-ibu arisan

Sebab beda lokasi, beda pula yang diamati
Semua ini hanya perihal biasa dan tak biasa

Sederhana dan istimewa, itu ilusi
Semua ini hanya perihal biasa da tak biasa

Yang terus saja berotasi
Hingga bosan, lantas mati


26-12-'14
Inspirasi : berkas senja di Selat Sunda

Jumat, 10 Maret 2017

Cerita Tentang Jupiter

Jupiter itu berbeda.
Bahkan tak berlebihan bila kukatakan ia terlalu berbeda.

Besarnya.
Jumlah satelitnya.
 Material pembentuknya.

Perbedaannya terlalu besar untuk menjadikannya tak tampak menonjol diantara teman se-tata-surya-nya.
Perbedaan itu terlalu renggang spasinya.

Hingga kami –yang notabene adalah temannya- begitu tak kuasa,
bahkan tak ingin berusaha untuk mengejar ketertinggalan itu.
Untuk menyamai perbedaan itu.

Menjadikan ke-menonjol-an-nya kian hari kian membesar.
Menyisakan ruang yang senantiasa melebar.
Meninggalkan ketakpahaman yang semakin merajalela.

Mirisnya, ditengah perbedaan yang kami semua sama sadari,
tak sekalipun kulihat ia yang coba membungkuk.
Menyeruak memangkas segala ruang kesenjangan.

Ia begitu kokoh.
Tak tergoyahkan bahkan oleh kami yang meronta ingin dibersamai.

Ia terlampau kekar.
Tak tergetarkan bahkan oleh kami yang meracau minta ditoleransi.

Ia terlalu mengakar.
Tak terluluhkan bahkan oleh kami yang mengemis minta dimengerti.

Ia unggul.
Tanpa bisa kami coba ungguli. Tanpa pernah membiarkan dirinya terungguli.

Ia ada.
Namun tak terasa.
Ia asing bagi kami.

Ada jarak yang tercipta di atas alam sadar sesama kami.
Spasi yang terpatri karena ego yang begitu radikal.

Tapi ada satu yang tak ia sadari.

Ia butuh kami.
Ia butuh kami yang kecil-kecil ini, untuk bisa dibilang besar.
Ia perlu kami yang satelitnya sedikit ini,untuk dapat disebut bersatelit banyak.
Ia perlu kami yang ringkih-ringkih ini, unth bleh dikatakan kekar.

Karena tak mungkin sesuatu dikatakan berbeda, bila ia tak punya pembeda.
Iya, kan?

25/12/’16
Dieny A.