Label

Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

Etika Berdakwah - Bertahan dan Pergi

Ketika niat bertahan hanya karena merasa banyak orang yang membutuhkan, maka kelak kita akan memilih pergi karena merasa tak ada orang yang membutuhkan.
Lantas perjalanan kita akan berujung seperti kisah Nabi Yunus a.s. Beliau pergi, karena merasa tak dibutuhkan. Merasa dakwahnya sia-sia.

Maka teladanilah kisah Nabi Musa a.s. Yang sekalipun menjadi buron Raja Fir'aun, dia tetap kembali ke hadapan kaumnya untuk mendakwahi.
Bukan karena merasa dibutuhkan, tetapi karena beliau alaihissalam merasa butuh amanah dakwah tersebut, agar menjadi hamba yang taat.

Sebab nyatanya, memang bukan Allah-lah yang butuh kita. Tapi kita yang butuh Allah.
Seperti halnya bukan obyek dakwah kita yang butuh kita. Tetapi kita yang butuh mereka untuk menjadi saksi atas amal jariyah kita di akhirat.

Jadi, untukmu. Yang barangkali pernah saya dakwahi.
Maaf, jangan ge-er. Saya tidak akan bertahan karena merasa dibutuhkan.
Sebab, kalaupun saya menetap, itu karena Allah yang menghendakinya. Bukan karena manusia.

Dan untukmu, yang memiliki persoalan serupa dengan saya.
Jangan pernah lelah. Jangan pernah putus asa. Jangan menyerah mencari ridho Allah.
Sebab ini 'ladang'mu. 'Ladang' yang Allah sediakan untuk kau garap. Allah itu Maha Kuasa. Kalau Dia mau, bisa saja detik ini juga Dia datangkan sosok yang jauh lebih unggul dari dirimu untuk menuntaskan 'ladang' ini. Mengambil alih 'ladang' milikmu ini.

Namun kalau sudah begitu, nanti kamu dapat apa? 'Panen' dari 'ladang' tersebut tentulah dihakmiliki oleh sosok yang menaklukkannya. Bukan dirimu.

Maka sekali lagi, jangan pernah lelah, jangan pernah putus asa, jangan menyerah. Jangan biarkan satu detik yang kamu miliki di dunia ini terlewatkan dengan sia-sia.

Capek? Istirahatnya nanti, di surga saja.




Bekasi, 9/6/17
Terinspirasi dari: tulisan di instastory mbak Luluk Gusliansyah
Dieny A.

Senin, 13 Maret 2017

Tentang Sebuah Jalan

Kupikir semua ini mudah. Meskipun pasti tak semudah membalikkan telapak tangan. Atau kalaupun ini sulit, kupikir tak sesulit yang dikatakan orang-orang yang kukira hiperbolis itu. Atau setidaknya, kupikir aku masih bisa melaluinya dengan niat yang tak akan goyah se-milimeter-pun. Meski harus dengan langkah terseret-seret nyaris tak bergerak. Kupikir aku bisa. Kupikir, kupikir, kupikir... aku kehabisan kata-kata. Ya, kupikir sekarang aku kehabisan kata-kata.
Tapi nyatanya, aku salah. Jalan ini sungguh berat, kawan. Sungguh, aku tak sedang berhiperbola, bahkan aku memang bukan seorang hiperbolis. Maka percayalah. Jalan ini penuh duri, penuh akan hal yang kau tak sukai, membuatmu merasa terasing, bahkan jalan ini akan memintai segala yang engkau punya, dan yang terburuk, membuat kau senantiasa di bayang-bayangi hasrat untuk mundur saja, berhenti, dan bercukup akan mengurusi dirimu sendiri.
Tapi –lagi, ketahuilah sahabat. Sekali kau sukses melaksanakannya, kau akan memperoleh secercah kebahagiaan yang menurutku tak akan habis meski kau tebarkan ke jutaan orang di dunia. Hatimu dipenuhi kehangatan seakan tengah dibalut belaian ibu. Jiwamu diselimuti rasa damai yang seolah kedamaian macam itu hanya bisa kau dapat di tempat antah berantah dalam imajinasimu. Aku serius. Dan tentu saja aku bukanlah seorang pembual ulung.
Lalu setelah serangkaian kebahagiaan itu sempurna menelusup dalam dirimu, kau akan bertanya darimana ini semua berasal. Seberapa berarti yang telah kau lakukan hingga segini hebat balasannya. Seakan kau mendadak amnesia akan betapa perihnya perjuangan yang kau sudah lancarkan. Lalu kau menyadari betapa kau sudah terikat dengan jalan ini, membuat kau tanpa sadar berjanji tak mau lepas dari jalan ini untuk selamanya.
Lalu –lagi, kau kembali mendapat tugas. Kali ini lebih berat dari yang kemarin lalu sukses kau eksekusi. Dan kau menyadari, seluruh yang ada di benakmu adalah apa yang telah kutuangkan dalam paragraf pertama kisah ini, namun belum tentu berakhir sesuai pada apa yang tertera di paragraf ini. Boleh jadi kau gagal, atau mudur. Tapi aku yakin, pasti temanmu cukup hebat untuk mampu menahanmu agar kau tak sampai roboh, barangkali kau butuh rehat sejenak. Barangkali kau butuh me-recharge semangatmu. Dan kau kembali menjadi pion utama paling prima di jalan ini. Tapi, semua pilihan tetaplah ditanganmu, teman. Maka berbijak-bijaklah memilih langkah.
Dan sekali lagi kutegaskan padamu, aku bukanlah seorang hiperbolis, apalagi seorang pembual ulung. Aku hanya membagikan apa-apa yang aku rasakan. Itu saja.
Bila kau bertanya jalan apakah yang telah kudeskripsi hampir sepanjang satu halaman ini, maka aku akan menjawab dengan sepenuh hati; ini adalah jalan dakwah.
Ya, jalan dakwah sobat.
Jalan inilah yang diperjuangkan Rasul kita tercinta mati-matian hingga titik darah penghabisan. Dan aku, disini, berjanji; Akan mengarungi jalan ini dengan sepenuh hati, seterjal apapun karang yang menghadang. Menyambung rute yang tak boleh putus ini hingga ajal mengizinkanku untuk berhenti. Maka,
Bismillah.

Jumat, 10 Maret 2017

Sepucuk Surat Dari Masa Depan


Kepada : Nebula


Hei, Nebula! Apa kau mengenalku? Tentu saja tidak. Tidak mungkin kau mengenali aku. Tapi aku, aku mengenalmu, Nebula. Hei-hei, Jangan bingung! Kukatakan aku mengenalmu, tentu bukan berarti aku juga dikenali olehmu, bukan? Jika yang terjadi adalah demikian, maka aku tidak akan mengatakan aku mengenalmu. Melainkan, kita saling mengenal.
Ah, tentu saja! Aku menepuk jidat. Jadi kikuk begini. Tentu saja aku tidak perlu repot-repot menjelaskan definisi suatu kata secara mendetail, panjang, dan lebar kepadamu, bukan? Dalam hal ini, kau jelas lebih ahli daripada aku. Terang saja, bukumu berjajar rapi diatas rak bertuliskan ‘Terlaris’ di toko buku di seluruh penjuru Nusantara, artikelmu bertebaran menghiasi sampul-sampul depan media cetak ternama. Dan opinimu, senantiasa menjadi trending topic di dunia maya. Sedangkan aku? Ah, aku hanyalah seseorang yang mengaku dirinya mengenalmu, Nebula.
Namun, jika kau berpikir sudah sewajarnya  aku mengenalmu sebab kau adalah wartawan merangkap editor, penulis yang sesekali menjadi cover designer, sekaligus menjadi pemilik penerbitan yang menerbitkan karya-karyamu, kau salah Nebula. Aku mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu. Hanya lewat tulisan-tulisanmu. Tapi bukan hanya dari tulisan-tulisanmu yang kini telah bernaung dalam hunian kata paling istimewa –buku, atau dari artikel-artikel gubahanmu yang tumpah-ruah di segala media massa. Bukan, Nebula. Bukan hanya dari situ.
Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu jauh  sebelum kau memproklamirkan dirimu adalah Nebula. Aku mengenalmu lewat tulisanmu di timeline sosial mediamu. Aku mengenalmu lewat tulisanmu di group-chat yang sama-sama kita ikuti. Aku mengenalmu lewat tulisanmu di personal-chat kita sendiri. Aku mengenalmu lewat tulisanmu yang kau kirim diam-diam, khusus untukku. Aku mengenalmu lewat tulisanmu yang kau ikutkan dalam lomba kepenulisan, dan menjadi pemenang.
Biar kuulang sekali lagi, Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu jauh  sebelum kau memproklamirkan dirimu adalah Nebula. Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu ketika kau bahkan masih menjadi hamparan debu di semesta. Tentu, tidak ada apa-apanya dengan nebula. Lantas sekarang, kau berkembang sedemikian pesat dan hebat. Dari debu semesta menjadi nebula.
Nah, dalam hal ini, aku jelas lebih banyak tahu dari dirimu. Jadi, biar kuterangkan padamu bagaimana prosesi detail transisimu dari debu semesta menjadi nebula. Namun sebelumnya, bisakah aku berasumsi  bahwa kau sudah tahu nebula adalah kerumunan kabut penghasil bintang di semesta karena kau memilih nama instrumen semesta itu jadi nama penamu? Ah, kurasa bisa, ya?
Baik, aku akan menjelaskan bagaimana nebula terbentuk. Nebula terbentuk dari hamparan debu di semesta yang senantiasa bergerak secara masiv. Yang menyebabkan debu-debu ini lantas membaur dengan gas yang juga ada di angkasa, menjadikan energi yang dihasilkan kolaborasi ini berkali-kali lipat lebih besar daripada saat mereka sendiri-sendiri –seperti konsep sinergi. Ya, debu dan gas semesta ini bersinergi, bersatu hingga terciptalah kabut dengan energi tak terhingga yang secara berkesinambungan memuntahkan pendaran-pendaran cahaya baru yang biasa kita sebut bintang : nebula. Namun prosesi pemersatuan ini, bukanlah mudah adanya, Nebula. Debu-debu semesta membutuhkan seluruh energinya untuk menyatukan diri dengan gas dari angkasa. Kesalahan sedikit saja, atau bahkan ke-tidak-maksimal-an nol koma sekian persen saja, bisa menjadikan mereka gagal bersatu. Lantas keduanya meledak, berhamburan kemana-mana. Pertaruhan yang luar biasa sekali, bukan?
Sampai disini, kau bukan hanya sudah paham, bukan, Nebula? Melainkan juga sudah menerka filosofi apa yang akan kujabarkan dalam beberapa paragraf kedepan. Ya, Nebula. Aku tau itu. Kan sudah kukatakan, aku mengenalmu. Sekalipun hanya dari tulisan-tulisanmu, aku bisa membaca dengan amat jelas bahwa kau adalah tipe yang senantiasa beberapa langkah lebih maju dengan lawanmu –dalam hal ini aku. Aku bahkan yakin sekali, kau sudah bisa menebak siapa aku semenjak paragraf keempat tulisan ini. Namun kau memutuskan terus membaca, padahal jadwalmu begitu padat. Kenapa? Ah, kau pasti lebih dari sekedar penasaran, bukan? Ada sesuatu, Nebula. Aku tahu itu. Aku mengenalmu.
Maka filosofi yang sudah kau analisa itupun, benar adanya, Nebula. Aku memang akan menganalogikan proses pembentukan nebula itu sebagai proses melejitnya karir menulismu. Dulu kau memang hanya debu semesta. Namun dengan segenap usaha, kau pertemukan dirimu dengan gas angkasa. Lantas bertaruh hidup-mati dengannya untuk melontarkan mimpi-mimpimu ke dunia nyata. Tidak mudah, memang. Namun kau berhasil, Nebula! Kini, kau jadi nebula. Produsen bintang-bintang yang senantiasa menerangi angkasa. Dan kau, sudah sepatutnya berbangga akan hal itu.
Ah, tentu saja! Aku menepuk jidat untuk kedua kali. Masalah berbangga diri, kita berdua sama hebatnya, bukan? Aku mengenalmu. Sekalipun hanya dari tulisan-tulisanmu, aku bisa membaca dengan amat jelas bahwa kau adalah tipe yang dengan senang hati memotivasi orang-orang di sekitarmu dengan kisah keberhasilanmu. Bukan sombong. Kau hanya malas mencari contoh jauh-jauh –katamu.
Kau sudah sangat banyak berubah, Nebula. Dari yang hanya debu di semesta, kini jadi nebula. Hei, tidakkah kau bertanya-tanya mengapa aku masih bisa mengenalimu dari tulisan-tulisanmu padahal kau sudah berubah sedemikian banyak? Ata kau malah sudah tahu penyebabnya? Ah, kurasa tidak. Kau tidak tahu sebabnya. Sudah kukatakan, kan. Aku mengenalmu, sekalipun hanya dari tulisan-tulisanmu.
Baiklah, akan kupaparkan padamu sebab aku masih mengenalimu dari tulisan-tulisanmu dulu hingga sekarang sekalipun kau telah berubah begitu besar. Barangkali, sebab ini pula sekaligus alasan kenapa aku mengirimkan surat ini buatmu. Atau bahkan, ini juga sebab yang sama untuk alasan kenapa kau masih melanjutkan membaca setelah tahu siapa aku ini.
Kuberitahu kau, Nebula. Tulisanmu, sedari dahulu, sejatinya tak pernah berubah. Atau bahkan, selalu sama. Hey, kau boleh protes bahwa tulisanmu yang sekaraang tentulah berbeda kualitasnya dengan yang dulu. Beda kelas, beda topik , dan lain-lain. Kau boleh protes. Tapi nanti, dengarkan dulu pemaparanku hingga selesai.
Tulisan-tulisanmu, Nebula. Sedari dulu. Entah di timeline media sosial, group-chat yang kita ikuti, personal-chat kita pribadi, surat-surat rahasia yang kau kirimi, bahkan untuk lomba yang kau menangi. Hingga saat ini. Di buku-buku best seller-mu, di artikel yang menjadi headline di media massa, bahkan cuitanmu yang senantiasa jadi trending topic sosial media. Selalu kutemukan suatu unsur yang sama. Amat kentara. Bukan, bukan gaya bahasa tentu saja. Ini unsur yang berbeda. Tak akan disadari siapa-siapa kecuali dia mengetahui kisah ini : kisah lama yang kita usaikan sendiri-sendiri, tapi nyatanya masih bercokol dalam hati.
Kau tahu, Nebula. Aku menemukan diriku disetiap tulisanmu. Sedari dulu. Hingga saat ini. Entah itu jadi tokoh utama, atau hanya sekedar perumpama. Selalu ada aku di tiap tulisanmu ‘kan, Nebula? Tidak ada lagi pura-pura. Kenyataannya, kau belum berhasil memaksaku keluar dari istana megah tempat ide-idemu bersemayam. Aku masih jadi amunisi paling mutakhir milikmu untuk menempatkan seluruh karyamu di jajaran teratas segala media.
Ya, Nebula. Akhirnya, kuperkenalkan diriku : Orion.
Sisanya, silahkan kau simpulkan sendiri, ya. Kau tentunya jauh lebih ahli ketimbang aku.
Sampai jumpa!

Dari : Orion


Sekeping Narasi Pengantar

Jauh dari riuh, terlempar dari hingar. Tempat relaksasi dari kehidupan hari-hari. Tempat kau terbebas dari rutinitas. Berkeliaran, tak beraturan, dalam keheningan. Disini : bait-bait narasi, dari pinggir imaji.