Ketika niat bertahan hanya karena merasa banyak orang yang membutuhkan, maka kelak kita akan memilih pergi karena merasa tak ada orang yang membutuhkan.
Lantas perjalanan kita akan berujung seperti kisah Nabi Yunus a.s. Beliau pergi, karena merasa tak dibutuhkan. Merasa dakwahnya sia-sia.
Maka teladanilah kisah Nabi Musa a.s. Yang sekalipun menjadi buron Raja Fir'aun, dia tetap kembali ke hadapan kaumnya untuk mendakwahi.
Bukan karena merasa dibutuhkan, tetapi karena beliau alaihissalam merasa butuh amanah dakwah tersebut, agar menjadi hamba yang taat.
Sebab nyatanya, memang bukan Allah-lah yang butuh kita. Tapi kita yang butuh Allah.
Seperti halnya bukan obyek dakwah kita yang butuh kita. Tetapi kita yang butuh mereka untuk menjadi saksi atas amal jariyah kita di akhirat.
Jadi, untukmu. Yang barangkali pernah saya dakwahi.
Maaf, jangan ge-er. Saya tidak akan bertahan karena merasa dibutuhkan.
Sebab, kalaupun saya menetap, itu karena Allah yang menghendakinya. Bukan karena manusia.
Dan untukmu, yang memiliki persoalan serupa dengan saya.
Jangan pernah lelah. Jangan pernah putus asa. Jangan menyerah mencari ridho Allah.
Sebab ini 'ladang'mu. 'Ladang' yang Allah sediakan untuk kau garap. Allah itu Maha Kuasa. Kalau Dia mau, bisa saja detik ini juga Dia datangkan sosok yang jauh lebih unggul dari dirimu untuk menuntaskan 'ladang' ini. Mengambil alih 'ladang' milikmu ini.
Namun kalau sudah begitu, nanti kamu dapat apa? 'Panen' dari 'ladang' tersebut tentulah dihakmiliki oleh sosok yang menaklukkannya. Bukan dirimu.
Maka sekali lagi, jangan pernah lelah, jangan pernah putus asa, jangan menyerah. Jangan biarkan satu detik yang kamu miliki di dunia ini terlewatkan dengan sia-sia.
Capek? Istirahatnya nanti, di surga saja.
Bekasi, 9/6/17
Terinspirasi dari: tulisan di instastory mbak Luluk Gusliansyah
Dieny A.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Juni 2017
Kamis, 04 Mei 2017
Antara SNMPTN dan SBMPTN
Assalamu'alaikum, sobat kelas dua belas!
Tentu sudah menerima hasil SNMPTN, kan?
Nah, sesuai judul yang saya terakan di atas, saya ingin mengajak sobat sekalian untuk sharing seputar masuk PTN.
Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang lolos. Selamat, kalian tidak perlu melanjutkan persaingan untuk masuk PTN yang kalian inginkan. Selamat, kalian hanya tinggal melakukan daftar ulang di PTN terkait untuk bisa dilabeli sebagai mahasiswa baru mereka. Dan selamat, untuk hasil luar biasa yang kalian raih sebagai balasan usaha kalian 'mengejar nilai' tiga tahun kebelakang.
Akan saya ingatkan pada kalian satu dan beberapa hal. Pertama, jangan sombong. Sekali lagi, jangan, sobat. Sombong itu mutlak dilarang, entah oleh agama maupun oleh tata krama. Sebab sejatinya, apa yang mau kalian sombongkan? Diterimanya kalian di PTN? Saya rasa itu bukan sepenuhnya usaha kalian. Sebab sampai saat ini, krieria penerimaan undangan ini hanya rektor dan Tuhan yang tahu. Kalian bisa apa? Boleh jadi, justru ada hati yang tersakiti akibat kesombongan kalian, lantas mendoakan hal-hal yang kurang berkenan untuk kalian. Nah loh, jangan sampai kejadian, ya!
Kedua, apakah nilai yang kalian peroleh itu halal? Maaf bila saya sedikit menggurui. Memang bukan hak saya menentukan sesuatu itu halal atau haram. Tapi disini, maksud saya lebih mengarah kepada : bagaimana cara kalian memperoleh nilai tersebut? Tidak bisa kita pungkiri, banyak guru di sekolah kita masing-masing yang tidak memberi nilai secara obyektif. Bahkan, ada sebagian dari kita yang memang sengaja untuk tidak meng-obyektif-kan diri, saya rasa. Yah, terlalu pribadi memang. Toh, disini maksud saya memang untuk introspeksi sama-sama.
Sobat, adakalanya nilai yang kita peroleh ini tidak sesuai dengan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kasarnya, kita tidak bisa mempertanggungjawabkan nilai yang kita dapat ini. Nah, inilah yang saya maksudkan dengan nilai yang tidak halal. Atau lebih sopannya, tidak berkah barangkali.
Bagaimana hukumnya jikalau kita memulai hidup baru (re: kuliah) yang diawali dengan suatu ketidakberkahan? Well, saya bukan ulama yang bisa menetapkan halal dan haram, berkah dan tidak berkah. Maka saya tegaskan lagi, ini untuk introspeksi bersama saja.
Terakhir untuk sobat yang lolos SNMPTN, saya sematkan sebuah doa buat kalian. Semoga, apa-apa yang kalian peroleh ini senantiasa dinaungi oleh ridho Allah SWT, semakin mendekatkan hati dan jiwa raga kita kepada-Nya, serta sekaligus menjadi jihad fisabilillah bagi kita semua. Sebab percuma kita mendapatkan sesuatu namun kita kehilangan Allah. Na'udzubillahi mindzalik, semoga kita semua terhindar dari ha-hal merugikan yang demikian.
Selanjutnya, bagi para pejuang yang dipercaya Allah untuk meneruskan perjuangannya menuju dunia perkuliahan melalui SBMPTN, saya ucapkan selamat.
Loh, kok selamat juga? Iya, selamat untuk tidak menyerah. Selamat untuk tidak menyalahkan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT. Dan selamat untuk kepercayaan yang telah Allah letakkan di pundakmu bahwa kalian pasti bisa.
Ingat, Allah menakdirkan karena Dia percaya kita bisa. Apapun itu, yang telah ditetapkan oleh Allah, artinya itu adalah kisah terbaik yang kelak akan kita ceritakan pada anak dan cucu saat bernostalgia. Allah penulis skenario terbaik, percayai itu!
Masalah kecewa, tentu tidak masalah. Sudah fitrahnya manusia merasa kecewa saat apa yang dia maui tidak terkabul. Tapi jangan berlebihan. Kalian tahu 'kan, kecewa datangnya darimana? Yup! Dari hati yang berharap kepada selain-Nya. Waduh, berarti saat kita kecewa, artinya kita sedang kecolongan. Makanya, cepat-cepatlah mengembalikan harap ini kepada pemilik yang sebenarnya. Yang tidak mungkin membuat kecewa.
Lagipula kalau dipikir lebih jauh, coba deh kita introspeksi diri. Memangnya sudah seberapa bagus kualitas dan kuantitas ibadah kita?
Atau, sudah berapa banyak kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba-Nya?
Sudah berapa kali kita buat Allah kecewa?
Terus, baru kali ini Allah tidak mengabulkan apa yang kita mau, kita langsung seenaknya kecewa.
Memangnya pantas?
Memangnya kita punya hak untuk kecewa?
Maka dari itu sobat, cobalah untuk bersyukur. bersyukur karena sekali lagi kita diberi momen untuk menyadarkan diri kita terhadap kesalahan dan kelalaian yang telah kita perbuat. Betapa angkuhnya kita tempo-tempo lalu.
Dan, buktikan. Bahwa kita siap untuk segera bangkit! Jangan lama-lama terpuruk dalam pojok kenestapaan. Begitu menemukan hikmahnya, ayo cepat-cepat bangkit! Jangan tertinggal untuk membabat habis SBMPTN.
Kalian bisa, yakinlah bahwa Allah tidak akan menepatkan kita pada posisi yang tidak bisa kita tangani.
Pesan saya, dalam setiap tahapan perjuangan, jangan lupa untuk senantiasa melibatkan Allah. Berdoalah setiap saat. Agar dipilhkan-Nya seusatu yang Dia rasa terbaik buat kita, agar dilancarkan-Nya ujian yang akan kita hadapi, agar dimudahkan jalan kita untuk mendekatkan diri pada-Nya, dan segala 'agar' lainnya yang terbesit di hati kalian.
Semoga kita semua berhasil sesuai definisi berhasil kita masing-masing, seraya tetap berada dibawah naungan Allah SWT.
Barangkali, cukup sekian yang bisa saya ulas kali ini. Omong-omong, jika kalian bertanya-tanya dalam hati, saya adalah termasuk golongan kedua yang saya bahas di atas, hehe. Maka dari itu, tulisan di atas hanyalah karya seorang amatir yang belum berhasil merengkuh PTN-nya. So, jangan terlalu diambil hati apabila ada salah-salah kata.
Lebih kurangnya saya mohon maaf, wassalamu'alaikum!
See ya soon.
Tentu sudah menerima hasil SNMPTN, kan?
Nah, sesuai judul yang saya terakan di atas, saya ingin mengajak sobat sekalian untuk sharing seputar masuk PTN.
Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang lolos. Selamat, kalian tidak perlu melanjutkan persaingan untuk masuk PTN yang kalian inginkan. Selamat, kalian hanya tinggal melakukan daftar ulang di PTN terkait untuk bisa dilabeli sebagai mahasiswa baru mereka. Dan selamat, untuk hasil luar biasa yang kalian raih sebagai balasan usaha kalian 'mengejar nilai' tiga tahun kebelakang.
Akan saya ingatkan pada kalian satu dan beberapa hal. Pertama, jangan sombong. Sekali lagi, jangan, sobat. Sombong itu mutlak dilarang, entah oleh agama maupun oleh tata krama. Sebab sejatinya, apa yang mau kalian sombongkan? Diterimanya kalian di PTN? Saya rasa itu bukan sepenuhnya usaha kalian. Sebab sampai saat ini, krieria penerimaan undangan ini hanya rektor dan Tuhan yang tahu. Kalian bisa apa? Boleh jadi, justru ada hati yang tersakiti akibat kesombongan kalian, lantas mendoakan hal-hal yang kurang berkenan untuk kalian. Nah loh, jangan sampai kejadian, ya!
Kedua, apakah nilai yang kalian peroleh itu halal? Maaf bila saya sedikit menggurui. Memang bukan hak saya menentukan sesuatu itu halal atau haram. Tapi disini, maksud saya lebih mengarah kepada : bagaimana cara kalian memperoleh nilai tersebut? Tidak bisa kita pungkiri, banyak guru di sekolah kita masing-masing yang tidak memberi nilai secara obyektif. Bahkan, ada sebagian dari kita yang memang sengaja untuk tidak meng-obyektif-kan diri, saya rasa. Yah, terlalu pribadi memang. Toh, disini maksud saya memang untuk introspeksi sama-sama.
Sobat, adakalanya nilai yang kita peroleh ini tidak sesuai dengan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kasarnya, kita tidak bisa mempertanggungjawabkan nilai yang kita dapat ini. Nah, inilah yang saya maksudkan dengan nilai yang tidak halal. Atau lebih sopannya, tidak berkah barangkali.
Bagaimana hukumnya jikalau kita memulai hidup baru (re: kuliah) yang diawali dengan suatu ketidakberkahan? Well, saya bukan ulama yang bisa menetapkan halal dan haram, berkah dan tidak berkah. Maka saya tegaskan lagi, ini untuk introspeksi bersama saja.
Terakhir untuk sobat yang lolos SNMPTN, saya sematkan sebuah doa buat kalian. Semoga, apa-apa yang kalian peroleh ini senantiasa dinaungi oleh ridho Allah SWT, semakin mendekatkan hati dan jiwa raga kita kepada-Nya, serta sekaligus menjadi jihad fisabilillah bagi kita semua. Sebab percuma kita mendapatkan sesuatu namun kita kehilangan Allah. Na'udzubillahi mindzalik, semoga kita semua terhindar dari ha-hal merugikan yang demikian.
Selanjutnya, bagi para pejuang yang dipercaya Allah untuk meneruskan perjuangannya menuju dunia perkuliahan melalui SBMPTN, saya ucapkan selamat.
Loh, kok selamat juga? Iya, selamat untuk tidak menyerah. Selamat untuk tidak menyalahkan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT. Dan selamat untuk kepercayaan yang telah Allah letakkan di pundakmu bahwa kalian pasti bisa.
Ingat, Allah menakdirkan karena Dia percaya kita bisa. Apapun itu, yang telah ditetapkan oleh Allah, artinya itu adalah kisah terbaik yang kelak akan kita ceritakan pada anak dan cucu saat bernostalgia. Allah penulis skenario terbaik, percayai itu!
Masalah kecewa, tentu tidak masalah. Sudah fitrahnya manusia merasa kecewa saat apa yang dia maui tidak terkabul. Tapi jangan berlebihan. Kalian tahu 'kan, kecewa datangnya darimana? Yup! Dari hati yang berharap kepada selain-Nya. Waduh, berarti saat kita kecewa, artinya kita sedang kecolongan. Makanya, cepat-cepatlah mengembalikan harap ini kepada pemilik yang sebenarnya. Yang tidak mungkin membuat kecewa.
Lagipula kalau dipikir lebih jauh, coba deh kita introspeksi diri. Memangnya sudah seberapa bagus kualitas dan kuantitas ibadah kita?
Atau, sudah berapa banyak kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba-Nya?
Sudah berapa kali kita buat Allah kecewa?
Terus, baru kali ini Allah tidak mengabulkan apa yang kita mau, kita langsung seenaknya kecewa.
Memangnya pantas?
Memangnya kita punya hak untuk kecewa?
Maka dari itu sobat, cobalah untuk bersyukur. bersyukur karena sekali lagi kita diberi momen untuk menyadarkan diri kita terhadap kesalahan dan kelalaian yang telah kita perbuat. Betapa angkuhnya kita tempo-tempo lalu.
Dan, buktikan. Bahwa kita siap untuk segera bangkit! Jangan lama-lama terpuruk dalam pojok kenestapaan. Begitu menemukan hikmahnya, ayo cepat-cepat bangkit! Jangan tertinggal untuk membabat habis SBMPTN.
Kalian bisa, yakinlah bahwa Allah tidak akan menepatkan kita pada posisi yang tidak bisa kita tangani.
Pesan saya, dalam setiap tahapan perjuangan, jangan lupa untuk senantiasa melibatkan Allah. Berdoalah setiap saat. Agar dipilhkan-Nya seusatu yang Dia rasa terbaik buat kita, agar dilancarkan-Nya ujian yang akan kita hadapi, agar dimudahkan jalan kita untuk mendekatkan diri pada-Nya, dan segala 'agar' lainnya yang terbesit di hati kalian.
Semoga kita semua berhasil sesuai definisi berhasil kita masing-masing, seraya tetap berada dibawah naungan Allah SWT.
Barangkali, cukup sekian yang bisa saya ulas kali ini. Omong-omong, jika kalian bertanya-tanya dalam hati, saya adalah termasuk golongan kedua yang saya bahas di atas, hehe. Maka dari itu, tulisan di atas hanyalah karya seorang amatir yang belum berhasil merengkuh PTN-nya. So, jangan terlalu diambil hati apabila ada salah-salah kata.
Lebih kurangnya saya mohon maaf, wassalamu'alaikum!
See ya soon.
Senin, 13 Maret 2017
Tentang Sebuah Jalan
Kupikir semua ini mudah. Meskipun pasti tak semudah
membalikkan telapak tangan. Atau kalaupun ini sulit, kupikir tak sesulit yang
dikatakan orang-orang yang kukira hiperbolis itu. Atau setidaknya, kupikir aku
masih bisa melaluinya dengan niat yang tak akan goyah se-milimeter-pun. Meski
harus dengan langkah terseret-seret nyaris tak bergerak. Kupikir aku bisa.
Kupikir, kupikir, kupikir... aku kehabisan kata-kata. Ya, kupikir sekarang aku
kehabisan kata-kata.
Tapi nyatanya, aku salah. Jalan ini sungguh berat, kawan.
Sungguh, aku tak sedang berhiperbola, bahkan aku memang bukan seorang
hiperbolis. Maka percayalah. Jalan ini penuh duri, penuh akan hal yang kau tak
sukai, membuatmu merasa terasing, bahkan jalan ini akan memintai segala yang
engkau punya, dan yang terburuk, membuat kau senantiasa di bayang-bayangi
hasrat untuk mundur saja, berhenti, dan bercukup akan mengurusi dirimu sendiri.
Tapi –lagi, ketahuilah sahabat. Sekali kau sukses
melaksanakannya, kau akan memperoleh secercah kebahagiaan yang menurutku tak
akan habis meski kau tebarkan ke jutaan orang di dunia. Hatimu dipenuhi
kehangatan seakan tengah dibalut belaian ibu. Jiwamu diselimuti rasa damai yang
seolah kedamaian macam itu hanya bisa kau dapat di tempat antah berantah dalam
imajinasimu. Aku serius. Dan tentu saja aku bukanlah seorang pembual ulung.
Lalu setelah serangkaian kebahagiaan itu sempurna
menelusup dalam dirimu, kau akan bertanya darimana ini semua berasal. Seberapa
berarti yang telah kau lakukan hingga segini hebat balasannya. Seakan kau mendadak
amnesia akan betapa perihnya perjuangan yang kau sudah lancarkan. Lalu kau
menyadari betapa kau sudah terikat dengan jalan ini, membuat kau tanpa sadar
berjanji tak mau lepas dari jalan ini untuk selamanya.
Lalu –lagi, kau kembali mendapat tugas. Kali ini lebih
berat dari yang kemarin lalu sukses kau eksekusi. Dan kau menyadari, seluruh
yang ada di benakmu adalah apa yang telah kutuangkan dalam paragraf pertama
kisah ini, namun belum tentu berakhir sesuai pada apa yang tertera di paragraf
ini. Boleh jadi kau gagal, atau mudur. Tapi aku yakin, pasti temanmu cukup
hebat untuk mampu menahanmu agar kau tak sampai roboh, barangkali kau butuh
rehat sejenak. Barangkali kau butuh me-recharge
semangatmu. Dan kau kembali menjadi pion utama paling prima di jalan ini. Tapi,
semua pilihan tetaplah ditanganmu, teman. Maka berbijak-bijaklah memilih
langkah.
Dan sekali lagi kutegaskan padamu, aku bukanlah seorang
hiperbolis, apalagi seorang pembual ulung. Aku hanya membagikan apa-apa yang
aku rasakan. Itu saja.
Bila kau bertanya jalan apakah yang telah kudeskripsi hampir
sepanjang satu halaman ini, maka aku akan menjawab dengan sepenuh hati; ini
adalah jalan dakwah.
Ya, jalan dakwah sobat.
Jalan inilah yang diperjuangkan Rasul kita tercinta
mati-matian hingga titik darah penghabisan. Dan aku, disini, berjanji; Akan
mengarungi jalan ini dengan sepenuh hati, seterjal apapun karang yang
menghadang. Menyambung rute yang tak boleh putus ini hingga ajal mengizinkanku
untuk berhenti. Maka,
Bismillah.
Langganan:
Postingan (Atom)