Jumat, 10 Maret 2017

Sebuah Pengakuan

Hai senja! Kali ini, izinkan aku memilihmu menjadi temanku bercerita, ya.
Dengarkan baik-baik, senja. Karena kali ini aku akan bercerita dengan sangat serius.

Kemarin lalu, aku sempat mengukir janji di kerak Bumi, bahwasanya aku akan mencari tau perasaan apa yang kala itu menerpaku.
Perasaan ketika aku ternyata lupa untuk menghitung jarakku dengannya, lupa bahwa aku tengah menantinya. Dan lupa-lupa lain yang berujung pada melupakannya.
Tidak sengaja melupakannya. Tidak sengaja menggeser prioritas akannya.

Kemarin lalu pula, aku sempat menerka bahwa perasaan ini adalah rasa kehilangan. Dan untuk beberapa waktu setelahnya, perasaan inilah yang aku percayai tengah menimpaku.
Tapi sekarang, aku mulai ragu. Apakah aku kehilangan?

Aku tidak kehilangan.
Awalnya aku memang merasa kehilangan. Ya, tentu saja wajar kalau aku kehilangan kan?
Siapa sih yang tidak kehilangan, bila sosok yang tadinya kau orbiti sepanjang waktu selama beberapa lama, tiba-tiba dijauhkan darimu?

Tidak ada. Aku yakin, tidak akan ada orang yang sanggup untuk tidak merasa kehilangan.
Tapi harusnya, si rasa kehilangan ini muncul pada awal-awal perpisahan, kan? Bukan belasan bulan setelah berjauhan.

Maka kusimpulkan, ini bukanlah kehilangan.
Ini bukanlah kehilangan akan si Bumi. Melainkan kehilangan atas si rasa kehilangan itu sendiri.

Kau paham, senja? Kau tidak paham?
Begini. Di tulisanku yang lalu-lalu, aku pernah mempertanyakan hal ini pada Bumi:
“Sebegitu tak pedulinya kah Bumi pada Bintang yang satu ini? Hingga jarak menjadi sebegitu berarti bagi keterlihatan sang Bintang dari sisi-sisi atmosfernya.”

Sekarang, aku menemukan jawabannya. Karena aku sudah merasakannya sendiri.
Bahwasanya jarak dan waktu memanglah sebegitu berarti dalam tiap-tiap fase keterkaitan antara dua insan.
Karena, terjadinya perubahan antar-fase itu juga boleh jadi karena adanya perubahan pada jarak dan waktu itu sendiri.
Perubahan pada jarak dan waktu yang mengkoneksikan keterkaitan dua insan tadi. Keterkaitan yang bukan karena Tuhan.

Tidak. Kau tak salah baca ,senja.
Aku memang mengatakan ‘keterkaitan yang bukan karena Tuhan’ barusan.

Miris memang. Ketika aku akhirnya mengaku bahwa aku memang menyadari keterikatan yang (tidak) sengaja tercipta ini tidaklah berorientasi kepada Sang Pencipta Ikatan itu sendiri.

Kau mau tahu, sejak kapan aku menyadari ini? Sejak... entahlah, aku lupa. Yang pasti sudah lama.

Tapi aku tak kunjung mengaku.
Kenapa? Karena aku tau bila aku mengaku, aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku seharusnya melepaskan ikatan apapun yang telah (terlanjur) terjalin diantara kami. Yang mana aku tak sanggup melakukannya.

Aku terlalu takut kehilangan Bumiku. Bumi yang sebenarnya bahkan memang tak pernah aku miliki. Bumi yang berani-beraninya kuklaim sebagai milikku. Bumi yang membuatku sanggup mengklaim diri menjadi Bintang atau menjadi Mars. Bumi  yang membuat aku tega memanipulasi diriku sendiri dengan delusi-delusi imajinatif akan atribut semesta menjadi perandaian yang seakan kebetulan pas dengan kondisiku.

Aku terlalu memaksakan kondisi. Memaksa semesta untuk menyesuaikan dirinya akan kondisiku. Memaksa diriku untuk yakin bahwa akhir cerita ini akan sesuai dengan kehendakku. Dan parahnya, itu semua berarti memaksa Tuhan untuk membuat takdir yang sesuai dengan mauku. Sedangkan apa-apa yang kumau tadi tidaklah berorientasikan kepadaNya.

Oh senja, aku ini jahat ya? Ya, aku jahat.
Lihat semesta, lihat. Inilah diri yang kemarin lalu memaksa kalian berkonspirasi untuk memenangkan egonya.

Sekarang, aku ingin mengakui segalanya. Se-ga-la-nya.

Aku ingin mengakui bahwasanya aku muak menjadi Bintang, atau berpura-pura jadi Mars, atau berharap jadi Bulan, atau berharap punya Bulan sendiri, atau bahkan sekedar menggunakan istilah-istilah astronomi untuk memperindah perandaian yang telah kubuat.

Aku muak.
 Aku muak tenggelam dalam kondisi yang mana aku tahu sebenarnya ini adalah ujian namun sedemikian kunikmati sampai-sampai aku membuat ilusi sendiri. Aku ingin keluar dari dunia imaji ini. Ingin cepat-cepat lulus ujian untuk kembali ke dunia realitas.

Tapi aku juga ingin mengakui bahwa sesungguhnya aku takut akan dunia realitas itu. Aku takut akan segala probabilitas yang mungkin saja terjadi di dunia itu. Aku takut padahal aku tahu segala kemungkinan itu telah ada yang mengaturnya.

Haha. Bodoh.

Kurasa segala yang harus kulakukan hanyalah membuka lembar baru. Lalu menuliskan kisahku. Bukan kisah intstrumen-instrumen semesta yang sejatinya hanyalah benda-benda tak bernyawa. 
Menulis tentang diriku, yang hanya merupakan seorang pengagum langit. Bukan bagian dari benda-benda langit itu sendiri.

Dan langkah pertama yang harus kukerjakan adalah.
Melepasnya. Dengan ikhlas.

Lantas kalaupun kelak aku akan menunggu lagi, aku ingin melakukannya secara objektif. Dan tentu saja, berorientasi pada Sang Maha Pencipta takdir.

Jika kau menanyakan apakah aku bisa melakukannya? Ah, aku juga bertanya hal yang sama.
Bisa, senja. Pasti bisa. Meskipun tanganku begetar hebat saat mengetik ‘pasti bisa’ barusan, tapi aku yakin Sang Maha Penolong pasti akan menolong dan membuatku menjadi bisa.

Jadi, kurasa. Aku harus menjadikan lembar ini sebagai lembar terakhir dari kisah tentang aku, si sosok yang penuh kepura-puraan. Atau lembar kedua sebelum terakhir, atau ketiga, keempat.
Entahlah. Aku masih belum benar-benar membulatkan putusan. Mungkin nanti-nanti aku akan mampir kesini. Sekedar singgah, menjamahi masa lalu. Berkisah tentang aku yang baru, lantas meminta restu kalian: para kata yang telah menjadi saksi atas kenaifanku.

Terakhir sebelum pamit, izinkan aku mengutip beberapa untai paragraf dari sebuah buku berjudul ‘Ephemera’, untuk sosok yang baru saja kuputuskan berhenti memanggilnya Bumi:

“Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit. Patah lagi. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi.
Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada lagi jatuh tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisian menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.
Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bukankah kita sudah sama sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera?”

Ah, paragraf ini sungguh telah menyeruakkan isi batinku yang selama ini terselubungi kepura-puraan.
Senja, aku pamit dulu ya.
Doakan juga aku agar bisa lulus ujian hati ini secepatnya.
Salam buat malam yang sebentar lagi mau menjelang.


16/10/’16
Dieny A.

Lupa Akan Menanti

Hey, Bumi.
Bagaimana kabarmu? Adakah kau rindu pada Mars-mu ini?

Haha, bercanda.
Aku tak mau tahu jawabanmu. Atau mencoba untuk tak tahu, mungkin.
Karena seperti biasa, aku takut tak siap dengan segala probabilitas jawabanmu.

Omong-omong, sudah berapa lama?
Sudah seberapa lama orbit memisah jarak kita? Atau, sudah seberapa jauh?
Adakah kau menghitungnya? Menghitung waktu, menghitung jarak, menghitung berapa lama lagi jarak ini akan menepi. Adakah kau menanti, Bumi?

Kau tau, ternyata aku tidak.
Aku tidak menghitung, aku tidak menanti. Bahkan, aku lupa bahwasanya sudah lama orbit kita tengah berjauhan sedemikian.

Aku lupa, haha.
Lucu bukan?

Mengingat bagaimana aku dulu menghitung jarak, menghitung detik, lantas membagi keduanya agar aku tau, kapan lagi orbit kita bersisian. Atau beriringan, atau sekedar berpapasan.
Ya, dulu aku menantikan semua itu. Menantikan setiap temu denganmu yang barangkali bisa tercipta. 

Dulu.
Dan sekarang, aku bisa-bisanya lupa. Lupa.

Tidakkah ini mengejutkanmu?
Atau hanya “oh, baguslah” lalu “ya sudah”?
Ya, tidak apa-apa sih. Terserah kamu.

Tapi asal kamu tahu, Bumi. Aku tidak merasa senang akan hal ini. Bahkan aku tidak tau harus merasa apa saat ini.
Aku hanya merasa kosong. Merasa sendiri.
Merasa, kehilangan, mungkin.
Ah, aku tidak tau. Belum tau. Dan akan mencari tau.


30/09/’16
Dieny A.

Merangkai Orion

Hai. Siapapun disana, ada yang bersedia kuajak bercerita?
Baiklah, aku cerita saja.
Semoga ada yang dengar, ya.

Ini soal Bintangnya Bumi.

Bermula dari dua malam lalu, aku tak begitu paham apa yang terjadi.
Tapi sepertinya, Bintang itu ikut berkonstelasi lagi dalam merangkai Orion.
Atau mungkin lebih tepatnya, diminta ikut berkonstelasi lagi dalam merangkai Orion.

 Tapi si Orion itu bukanlah selamanya terlihat, kan?
Paling barang sehari dua hari lantas tak tampak lagi dari atmosfer Bumi.

Aku heran, tidakkah Bintang lelah selalu menjadi yang sementara?
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bagaimana pula aku bisa berharap jadi yang selamanya sedangkan semesta yang kita huni inipun hanya sementara adanya.

Dan, benarlah terjadi.
Maka, kini aku kembali jadi Bintang yang berlokasi di titik terjauh langit Bumi.
Jauh.

Ah, bahkan ketika cahayaku kemarin meredup pun Bumi tidak peduli.
Boro-boro peduli, tahu atau bahkan mau tahu pun tidak kurasa.

Sebegitu tak pedulinya kah Bumi pada Bintang yang satu ini?
Hingga jarak menjadi sebegitu berarti bagi keterlihatan sang Bintang dari sisi-sisi atmosfernya.

Haha. Entahlah.
Namanya juga Bintang, terlalu banyak di langit nan luas sana.
Ya sudah, terima saja nasibmu, ya. Bintang.


28/08/’16
Dieny A.

Bagaimana Bimasakti?

Selamat malam, Bumi.

Kudengar, saat ini kau tengah dijamahi Bimasakti ya? Wah sepertinya seru sekali.

Bumi, bisakah kau ceritakan padaku bagaimana rupa si Bimasakti itu?
Apakah benar kata Bintang-bintang lain bahwa wujud Bimasakti itu menyerupai lempengan cakram?
Aku tidak mau percaya mereka, Bumi. Mereka kan belum lihat Bimasakti secara langsung. Pasti mereka itu cuma dengar-dengar saja.

Bumi, ayo katakan padaku! Bagaimana wujudnya, ada apa saja disana, atau seberapa dekat  jarak mereka, atau... apapun itu Bumi. Ceritakan padaku!
Berceritalah padaku seperti kau bercerita pada Bulan.

Kau tahu kan, bahwa aku sangat ingin jadi Bulan?
Dulu kubilang, Mars hanya bayang-bayang. Yang ketika berevolusi dekat Bumi, dianggapnya sebagai Bulan.

Nyatanya, tidak kan?
Beberapa waktu lalu, Mars sempat tuh bertandang ke atmosfermu. Tapi apa? Hanya “wah langitnya cerah, ya” dan, ya sudah. Begitu saja.
Tidak ada euforia seperti penyambutan Purnama.

Jelas sekali aku tak bisa jadi Bulan. Karena bahkan dari dekatpun aku tetap saja dianggap Bintang.
Ah, ya sudahlah. Mungkin memang takdirku. Toh Mars juga punya Bulan sendiri. Dua malah, haha...

Maka dari itu, Bumi. Sekarang aku meminta diceritakan olehmu.
Ceritakan padaku seperti kau menceritakan sesuatu pada Bulan.

Oh iya. Aku ingat sesuatu.
Dulu sekali, entah berapa tahun silam. Kau pernah bercerita padaku. Ralat, kita pernah saling menceritakan sesuatu.
Tentang Merkurius, tentang Orion, bahkan tentang Mars sendiri.

Ah.. aku masih bertanya-tanya, Bumi. Apakah dulu itu aku sempat jadi Bulan?
Apa aku tetap saja Bintang? Barangkali salah satu Bintang yang ikut berkonstelasi membangun Orion (?). Sehingga sempat terlihat olehmu.

Ya sudahlah. Aku sudi kok tetap seperti ini. Toh Mars juga punya Bulan sendiri. Dua malah, haha...

Jadi bagaimana, Bumi? Bersediakah kau mengamati Bimasakti demi bisa menceritakannya padaku?
Tolong Bumi. Bersedialah.

Karena dengan itu, kau juga akan melihatku, meskipun tanpa kau sadari.
Karena hanya dengan itu aku bisa memintamu melihatku. Tanpa kau sadari.
Karena aku juga bagian dari Bimasakti. Kau lupa ya?
Tidak apa-apa kau tak sadar saat melihatku. Karena toh kalau kau sadar juga kau pasti akan berpaling, kan?

Omong-omong, kapan ya Bimasakti akan sudi menepi ke atmosferku?
Ah. Aku tak sabar, Bumi.
Aku kan juga ingin melihatmu, sebagai bagian dari Bimasakti.


06/08/’16
Dieny A.

Punya Bulan Sendiri

Hey malam, apa kabar?
Aku ingin bercerita, malam. Karena aku, hingga saat ini tak juga menemukan teman berkisah sehebat engkau.

Ini soal Mars-ku. Oh, bukan. Punya hak apa aku sampai berani mengklaim atas apa-apa yang dicipta Tuhan.
Ini soal Mars.

Masih ingat perandaian yang beberapa waktu lalu sempat kutuangkan disini? Iya yang itu. Ini kutipannya.
“Jika engkau adalah Bumi, maka pasti akan ada orang yang menjadi Bulan buatmu. Sedang aku hanyalah Bintang, dan Mars hanyalah bayang-bayang.”
Ingat kan, malam?

Jadi begini, kau sudah tau kan bahwa Mars disitu adalah juga aku? Hanya saja, aku dalam identitas yang bukan aku.
Oh kau baru tau kah, malam? Maaf ya, berarti aku lupa memberitahumu.

Kita lanjut, ya. Kemarin temanku baru bilang bahwa aku menemukan Bumi yang baru. Bukan dalam konteks aku sebagai Mars, melainkan aku sebagai Bulan.

Ah, pasti kau akan ingin bilang ini kabar baik ya?
Tidak-tidak. Kau tak boleh menyamai orang lain. Dengar dulu kelanjutannya.

Aku bukannya tak senang. Coba saja pikir, dari Mars, menjadi Bulan. Tentulah ini peningkatan yang hebat bukan?
Tapi masalahnya, aku tidak merasa berganti Bumi.
Dan, siapa? Siapa Bumi itu?
Atau, aku ini jadi Bulannya siapa?

Karena aku pribadi masih mengklaim diri sebagai Mars, atau Bintang dari Bumiku yang itu. Yang sudah hampir dua tahun ini menjadi acuanku dalam berpendar.

Atas semua gemelut hati, aku bertanya.
Dia Bumiku, atau aku yang jadi Bumi?
Wah aku Bumi!

Ah, tidak-tidak. Kurasa kurang pas.

Kau ingat kan, malam. Di perandaianku aku mengatakan
“Tapi ingat, Mars juga punya bulan sendiri. Tak harus melulu dengan Bumi.”

Begini saja,
Aku masih Mars, dengan Bumi yang sama. Hanya saja Bulan milikku baru melipir ke atmosfer.
Aku Mars yang baru sadar bahwa punya Bulan.


04/08/’16
Dieny A.

Bumi Malam Hari

Pernahkah kamu terpikir suatu perandaian? Yang tafsirnya sanggup mendeskripsi segala keterkaitan diantara kita? Kalau belum, coba simak ini.

Bumi Malam Hari
Semesta. Ia begitu luas.

Dan memuat begitu banyak instrumen langit.

Umpamakan itu manusia.


Jika engkau adalah Bumi, maka pasti akan ada sosok yang akan menjadi Bulan buatmu.

Yang tak pernah lekang dari mengelilingimu sembari engkau meniti jalanmu.

Aku tau kamu tau pasti bahwa aku ingin jadi itu.

Dan kamu juga tau aku tau pasti bahwa aku tak bisa jadi itu.

Satu yang kuakui, aku adalah Bintang di salah satu pojok langitmu.

Yang selalu menetap di satu tempat, tak peduli dipuji atau di abai.

Yang selalu menatap ke satu tempat, tak peduli jauh atau dekat.

Yang ketika massanya habis, bisa  terbakar, tertelan gravitasi miliknya sendiri, lalu hilang dari 
semesta tanpa Bumi ketahui, apalagi tangisi lalu ratapi.

Lantas bagaimana dengan Mars? Pantaskah ia menjelma jadi Bulan? Atau malah hanya setara dengan Bintang?

Bisa ya, bisa tidak.

Setahuku, Mars adalah bayang-bayang. Menguntit Bumi pada rute yang sendiri-sendiri. Searah namun tak sejalur.

Ketika dekat, barangkali Bumi anggap ia Bulannya.

Dan kala jauh, Bumi anggap ia Bintang.          

Tapi ingat, Mars juga punya bulan sediri. Tak harus melulu dengan Bumi.

***

            Sekarang apakah kamu paham? Kuharap iya, karena setelah ini aku tak tahu mesti bagaimana lagi mengisyarat padamu. Jadi ya, sekarang terserah kamu saja.



19/01/’16
Dieny A.

Sekeping Narasi Pengantar

Jauh dari riuh, terlempar dari hingar. Tempat relaksasi dari kehidupan hari-hari. Tempat kau terbebas dari rutinitas. Berkeliaran, tak beraturan, dalam keheningan. Disini : bait-bait narasi, dari pinggir imaji.