Assalamu'alaikum, sobat kelas dua belas!
Tentu sudah menerima hasil SNMPTN, kan?
Nah, sesuai judul yang saya terakan di atas, saya ingin mengajak sobat sekalian untuk sharing seputar masuk PTN.
Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang lolos. Selamat, kalian tidak perlu melanjutkan persaingan untuk masuk PTN yang kalian inginkan. Selamat, kalian hanya tinggal melakukan daftar ulang di PTN terkait untuk bisa dilabeli sebagai mahasiswa baru mereka. Dan selamat, untuk hasil luar biasa yang kalian raih sebagai balasan usaha kalian 'mengejar nilai' tiga tahun kebelakang.
Akan saya ingatkan pada kalian satu dan beberapa hal. Pertama, jangan sombong. Sekali lagi, jangan, sobat. Sombong itu mutlak dilarang, entah oleh agama maupun oleh tata krama. Sebab sejatinya, apa yang mau kalian sombongkan? Diterimanya kalian di PTN? Saya rasa itu bukan sepenuhnya usaha kalian. Sebab sampai saat ini, krieria penerimaan undangan ini hanya rektor dan Tuhan yang tahu. Kalian bisa apa? Boleh jadi, justru ada hati yang tersakiti akibat kesombongan kalian, lantas mendoakan hal-hal yang kurang berkenan untuk kalian. Nah loh, jangan sampai kejadian, ya!
Kedua, apakah nilai yang kalian peroleh itu halal? Maaf bila saya sedikit menggurui. Memang bukan hak saya menentukan sesuatu itu halal atau haram. Tapi disini, maksud saya lebih mengarah kepada : bagaimana cara kalian memperoleh nilai tersebut? Tidak bisa kita pungkiri, banyak guru di sekolah kita masing-masing yang tidak memberi nilai secara obyektif. Bahkan, ada sebagian dari kita yang memang sengaja untuk tidak meng-obyektif-kan diri, saya rasa. Yah, terlalu pribadi memang. Toh, disini maksud saya memang untuk introspeksi sama-sama.
Sobat, adakalanya nilai yang kita peroleh ini tidak sesuai dengan kemampuan kita yang sesungguhnya. Kasarnya, kita tidak bisa mempertanggungjawabkan nilai yang kita dapat ini. Nah, inilah yang saya maksudkan dengan nilai yang tidak halal. Atau lebih sopannya, tidak berkah barangkali.
Bagaimana hukumnya jikalau kita memulai hidup baru (re: kuliah) yang diawali dengan suatu ketidakberkahan? Well, saya bukan ulama yang bisa menetapkan halal dan haram, berkah dan tidak berkah. Maka saya tegaskan lagi, ini untuk introspeksi bersama saja.
Terakhir untuk sobat yang lolos SNMPTN, saya sematkan sebuah doa buat kalian. Semoga, apa-apa yang kalian peroleh ini senantiasa dinaungi oleh ridho Allah SWT, semakin mendekatkan hati dan jiwa raga kita kepada-Nya, serta sekaligus menjadi jihad fisabilillah bagi kita semua. Sebab percuma kita mendapatkan sesuatu namun kita kehilangan Allah. Na'udzubillahi mindzalik, semoga kita semua terhindar dari ha-hal merugikan yang demikian.
Selanjutnya, bagi para pejuang yang dipercaya Allah untuk meneruskan perjuangannya menuju dunia perkuliahan melalui SBMPTN, saya ucapkan selamat.
Loh, kok selamat juga? Iya, selamat untuk tidak menyerah. Selamat untuk tidak menyalahkan takdir yang telah ditetapkan Allah SWT. Dan selamat untuk kepercayaan yang telah Allah letakkan di pundakmu bahwa kalian pasti bisa.
Ingat, Allah menakdirkan karena Dia percaya kita bisa. Apapun itu, yang telah ditetapkan oleh Allah, artinya itu adalah kisah terbaik yang kelak akan kita ceritakan pada anak dan cucu saat bernostalgia. Allah penulis skenario terbaik, percayai itu!
Masalah kecewa, tentu tidak masalah. Sudah fitrahnya manusia merasa kecewa saat apa yang dia maui tidak terkabul. Tapi jangan berlebihan. Kalian tahu 'kan, kecewa datangnya darimana? Yup! Dari hati yang berharap kepada selain-Nya. Waduh, berarti saat kita kecewa, artinya kita sedang kecolongan. Makanya, cepat-cepatlah mengembalikan harap ini kepada pemilik yang sebenarnya. Yang tidak mungkin membuat kecewa.
Lagipula kalau dipikir lebih jauh, coba deh kita introspeksi diri. Memangnya sudah seberapa bagus kualitas dan kuantitas ibadah kita?
Atau, sudah berapa banyak kita lalai akan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba-Nya?
Sudah berapa kali kita buat Allah kecewa?
Terus, baru kali ini Allah tidak mengabulkan apa yang kita mau, kita langsung seenaknya kecewa.
Memangnya pantas?
Memangnya kita punya hak untuk kecewa?
Maka dari itu sobat, cobalah untuk bersyukur. bersyukur karena sekali lagi kita diberi momen untuk menyadarkan diri kita terhadap kesalahan dan kelalaian yang telah kita perbuat. Betapa angkuhnya kita tempo-tempo lalu.
Dan, buktikan. Bahwa kita siap untuk segera bangkit! Jangan lama-lama terpuruk dalam pojok kenestapaan. Begitu menemukan hikmahnya, ayo cepat-cepat bangkit! Jangan tertinggal untuk membabat habis SBMPTN.
Kalian bisa, yakinlah bahwa Allah tidak akan menepatkan kita pada posisi yang tidak bisa kita tangani.
Pesan saya, dalam setiap tahapan perjuangan, jangan lupa untuk senantiasa melibatkan Allah. Berdoalah setiap saat. Agar dipilhkan-Nya seusatu yang Dia rasa terbaik buat kita, agar dilancarkan-Nya ujian yang akan kita hadapi, agar dimudahkan jalan kita untuk mendekatkan diri pada-Nya, dan segala 'agar' lainnya yang terbesit di hati kalian.
Semoga kita semua berhasil sesuai definisi berhasil kita masing-masing, seraya tetap berada dibawah naungan Allah SWT.
Barangkali, cukup sekian yang bisa saya ulas kali ini. Omong-omong, jika kalian bertanya-tanya dalam hati, saya adalah termasuk golongan kedua yang saya bahas di atas, hehe. Maka dari itu, tulisan di atas hanyalah karya seorang amatir yang belum berhasil merengkuh PTN-nya. So, jangan terlalu diambil hati apabila ada salah-salah kata.
Lebih kurangnya saya mohon maaf, wassalamu'alaikum!
See ya soon.
Kamis, 04 Mei 2017
Senin, 17 April 2017
Ciptaan Naif
Selamat siang, terik. Bolehkah kuminta sedikit waktumu untuk
bercerita tentang Bumi?
Boleh, ya?
Kau tentu sudah dengar bukan,
bahwasanya beberapa waktu lalu aku sempat berc
erita pada senja tentang satelit
buatan manusia yang menjadikan aku dan Bumi
saling bertukar kabar?
Lantas, aku meminta senja untuk
membantuku melawan koneksi itu lantaran takut hempasan meteor itu terlalu dalam
hingga tak sanggup kuhilangkan.
Jadi begini, terik.Kami sudah
berhenti berhubungan. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Bumi maupun satelit itu sehingga tak
sekalipun dia menghubungiku.
Bagus? Tentu saja.
Aku bersyukur sekali. Akhirnya
kami bisa menjalani orbit masing-masing tanpa berusaha saling menindih.
Eh, saling? Haha...
Entahlah, ini hanya aku yang
merasa atau bagaimana. Sebab dari kemarin, sepertinya memang Bumi lah yang senantisa mengontakiku.
Tapi, yah... salahku juga, sih. Membuat kabar ataupun pernyataan
yang memancingnya untuk bertanya lebih jauh.
Jadi, terik. Apakah pantas bila
kusebut ini saling?
Apa hanya dia? Atau hanya aku?
Sebenarnya, akupun bingung,
terik. Aku senang kami tak berhubungan. Tapi tetap saja, kehilangan itu pasti
ada.
Aku senang kami berhubungan,
sampai membuat kabar agar dia hubungi malah. Tapi tetap saja, kekhawatiran
bahkan ketakutan akan dosa itu selalu menghantui.
Maka menurutmu, terik. Manakah
yang harus kuutamakan?
Ah, tentu saja. Jawabannya adalah
Dia.
Aku harus mengutamakan Dia bukan?
Sebab bahkan aku tak tahu
marabahaya apa yang barangkali bisa menimpaku seiring dengan kesenanganku
berhubungan dengannya.
Ya, begitulah. Terkadang
ciptaan-ciptaan-Nya ini terlalu naif dalam menghadapi suatu hal yang
bertipe
duniawi.
Eh, atau hanya aku?
Mungkin. Mungkin saja memang
hanya aku ciptaannya yang luar biasa naif dalam menanggapi segala cobaan hidup.
Haha, naif.
Tidak, terik. Aku tidak mau jadi
naif. Aku harus berjuang menegakkan apa-apa yang kuanggap benar.
Sebab yang benar, belum tentu
menyenangkan, bukan? Ya, menegakkan kebenaran itu perihal susah.
Ya. Aku bisa.
Aku. Pasti. Bisa.
‘Kan, terik?
15/04/’17
Dieny A.
Senin, 13 Maret 2017
Perihal Biasa dan Tak Biasa
Bagi
anak-anak laut, bagi bapak-bapak nelayan, dan bagi ibu-ibu petani garam
Adalah
perihal yang biasa mereka lihat angin mencipta riak
Belanja di mall,baru luar biasa
Bagi
anak-anak laut, bagi bapak-bapak nelayan, dan bagi ibu-ibu petani garam
Bukan
perihal istimewa ketika mereka lihat senja ditelan ombak
Naik wahana di taman wista, baru
istimewa
Sebab hari-hari, merekalah saksi atas
atraksi yang angin dan ombak lakoni
Anak-anak
laut lain dengan anak-anak kota
Bapak-bapak
nelayan berbeda dengan bapak-bapak karyawan
Ibu-ibu petani garam pun tak sama dengan ibu-ibu arisan
Sebab
beda lokasi, beda pula yang diamati
Semua
ini hanya perihal biasa dan tak biasa
Sederhana
dan istimewa, itu ilusi
Semua ini hanya perihal biasa da tak biasa
Yang
terus saja berotasi
Hingga bosan, lantas mati
26-12-'14
Inspirasi : berkas senja di Selat Sunda
Tentang Sebuah Jalan
Kupikir semua ini mudah. Meskipun pasti tak semudah
membalikkan telapak tangan. Atau kalaupun ini sulit, kupikir tak sesulit yang
dikatakan orang-orang yang kukira hiperbolis itu. Atau setidaknya, kupikir aku
masih bisa melaluinya dengan niat yang tak akan goyah se-milimeter-pun. Meski
harus dengan langkah terseret-seret nyaris tak bergerak. Kupikir aku bisa.
Kupikir, kupikir, kupikir... aku kehabisan kata-kata. Ya, kupikir sekarang aku
kehabisan kata-kata.
Tapi nyatanya, aku salah. Jalan ini sungguh berat, kawan.
Sungguh, aku tak sedang berhiperbola, bahkan aku memang bukan seorang
hiperbolis. Maka percayalah. Jalan ini penuh duri, penuh akan hal yang kau tak
sukai, membuatmu merasa terasing, bahkan jalan ini akan memintai segala yang
engkau punya, dan yang terburuk, membuat kau senantiasa di bayang-bayangi
hasrat untuk mundur saja, berhenti, dan bercukup akan mengurusi dirimu sendiri.
Tapi –lagi, ketahuilah sahabat. Sekali kau sukses
melaksanakannya, kau akan memperoleh secercah kebahagiaan yang menurutku tak
akan habis meski kau tebarkan ke jutaan orang di dunia. Hatimu dipenuhi
kehangatan seakan tengah dibalut belaian ibu. Jiwamu diselimuti rasa damai yang
seolah kedamaian macam itu hanya bisa kau dapat di tempat antah berantah dalam
imajinasimu. Aku serius. Dan tentu saja aku bukanlah seorang pembual ulung.
Lalu setelah serangkaian kebahagiaan itu sempurna
menelusup dalam dirimu, kau akan bertanya darimana ini semua berasal. Seberapa
berarti yang telah kau lakukan hingga segini hebat balasannya. Seakan kau mendadak
amnesia akan betapa perihnya perjuangan yang kau sudah lancarkan. Lalu kau
menyadari betapa kau sudah terikat dengan jalan ini, membuat kau tanpa sadar
berjanji tak mau lepas dari jalan ini untuk selamanya.
Lalu –lagi, kau kembali mendapat tugas. Kali ini lebih
berat dari yang kemarin lalu sukses kau eksekusi. Dan kau menyadari, seluruh
yang ada di benakmu adalah apa yang telah kutuangkan dalam paragraf pertama
kisah ini, namun belum tentu berakhir sesuai pada apa yang tertera di paragraf
ini. Boleh jadi kau gagal, atau mudur. Tapi aku yakin, pasti temanmu cukup
hebat untuk mampu menahanmu agar kau tak sampai roboh, barangkali kau butuh
rehat sejenak. Barangkali kau butuh me-recharge
semangatmu. Dan kau kembali menjadi pion utama paling prima di jalan ini. Tapi,
semua pilihan tetaplah ditanganmu, teman. Maka berbijak-bijaklah memilih
langkah.
Dan sekali lagi kutegaskan padamu, aku bukanlah seorang
hiperbolis, apalagi seorang pembual ulung. Aku hanya membagikan apa-apa yang
aku rasakan. Itu saja.
Bila kau bertanya jalan apakah yang telah kudeskripsi hampir
sepanjang satu halaman ini, maka aku akan menjawab dengan sepenuh hati; ini
adalah jalan dakwah.
Ya, jalan dakwah sobat.
Jalan inilah yang diperjuangkan Rasul kita tercinta
mati-matian hingga titik darah penghabisan. Dan aku, disini, berjanji; Akan
mengarungi jalan ini dengan sepenuh hati, seterjal apapun karang yang
menghadang. Menyambung rute yang tak boleh putus ini hingga ajal mengizinkanku
untuk berhenti. Maka,
Bismillah.
Satelit Buatan Manusia
Halo, senja! Bolehkah aku berbagi
cerita?
Tenang saja, senja. Kali ini aku
tidak akan memintamu menanyakan kabar Bumi
pada semesta, kok.
Sebab sekarang aku sudah tahu kondisinya.
Sebab sekarang aku sudah tahu kondisinya.
Kau penasaran apa yang terjadi?
Nah, biar kuceritakan.
Kami tidak bertemu, senja. Tentu
saja kami tidak bertemu, kalender astronomi yang dibuat manusia-manusia jenius
itu kan selalu benar.
Hanya saja, teknologi
manusia-manusia jenius itu juga semakin mencanggih.
Kau tahu, sekarang satelit buatan
mereka sudah mampu mencipta koneksi antar-planet.
Maka, ya. Satelit-satelit itulah
yang memegang andil besar atas menjadi-tahu-nya aku akan kabar si Bumi.
Tidak, aku tidak akan mengaitkan
koneksiku dengan Bumi ini terhadap Bulan, Phobos, maupun Demios. Tentu saja.
Hanya saja... entahlah. Rasanya
seolah-olah jutaan meteor menghujani permukaanku. Begitu mengejutkan.
Membuatku megap, tak kuat
menerima debaran yang menghantam terus-terusan.
Tapi sudah. Begitu saja. Hanya
terkejut yang aku rasa. Hanya debaran yang aku derita. Sisanya, biasa saja.
Aku tidak berharap, senja.
Sungguh, aku senantiasa berusaha untuk tidak berharap yang tidak-tidak.
Tapi aku bisa apa, senja? Aku ini
hanya Mars. Hanya batu yang
terindikasi di permukaanku.
Kau tahu kan, issue kiamat yang disebabkan oleh hujan meteor itu? Nah,
itulah yang kukhawatirkan.
Aku berusaha menawan harapku agar
tak sampai menguar liar. Tapi bagaimana dengan meteor yang membadai menerpa
permukaanku? Kuatkah aku menahannya, senja?
Aku tidak mau jadi seperti Bulan, yang permukaannya berlubang
karena meteor menyerang.
Aku tidak ingin segala koneksiku
dengan Bumi menorehkan bekas yang tak mungkin terobati bahkan oleh sang
penyembuh paling mumpuni : waktu.
Aku ingin melupakannya, senja.
Tapi aku bisa apa? Menghantam
satelit-satelit buatan manusia itu agar tak lagi mengkoneksikan kami? Atau
cukup dengan menolak segala usaha Bumi dan para satelit itu mengontaki? Atau
cukup dengan mengikis meteor-meteor itu di atmosfer, agar tak sampai menghujami
kerakku?
Ah... apapun itu, akupun ingin
sekali melakonkan skenario itu, senja.
Tapi aku tak kuasa. Belum merasa
bisa.
Entahlah, debaran yang dicipta
hujan meteor itu masih terasa begitu mengasyikkan bagiku
Jadi aku harus apa, senja?
Haruskah aku melawan gejolak untuk merasakan debaran itu?
Ah, kurasa harus, ya?
Kalau begitu, senja, maukah kau
membantuku? Membantu membinasakan gejolak itu?
Tolonglah, senja. Bantu aku.
Kuatkan aku. Teguhkan tekadku.
Jadilah perpanjangan tangan Sang
Empunya Semesta untuk menjelma sebagai penolongku.
Ya?
11/03/’17
Dieny A.
Dieny A.
Jumat, 10 Maret 2017
Sepucuk Surat Dari Masa Depan
Kepada : Nebula
Hei, Nebula! Apa kau mengenalku? Tentu saja tidak. Tidak mungkin kau
mengenali aku. Tapi aku, aku mengenalmu, Nebula. Hei-hei, Jangan bingung!
Kukatakan aku mengenalmu, tentu bukan berarti aku juga dikenali olehmu, bukan?
Jika yang terjadi adalah demikian, maka aku tidak akan mengatakan aku
mengenalmu. Melainkan, kita saling mengenal.
Ah, tentu saja! Aku menepuk jidat. Jadi kikuk begini. Tentu saja aku tidak
perlu repot-repot menjelaskan definisi suatu kata secara mendetail, panjang,
dan lebar kepadamu, bukan? Dalam hal ini, kau jelas lebih ahli daripada aku.
Terang saja, bukumu berjajar rapi diatas rak bertuliskan ‘Terlaris’ di toko
buku di seluruh penjuru Nusantara, artikelmu bertebaran menghiasi sampul-sampul
depan media cetak ternama. Dan opinimu, senantiasa menjadi trending topic di dunia maya. Sedangkan aku? Ah, aku hanyalah
seseorang yang mengaku dirinya mengenalmu, Nebula.
Namun, jika kau berpikir sudah sewajarnya
aku mengenalmu sebab kau adalah wartawan merangkap editor, penulis yang
sesekali menjadi cover designer,
sekaligus menjadi pemilik penerbitan yang menerbitkan karya-karyamu, kau salah
Nebula. Aku mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu. Hanya lewat tulisan-tulisanmu. Tapi
bukan hanya dari tulisan-tulisanmu yang kini telah bernaung dalam hunian kata
paling istimewa –buku, atau dari artikel-artikel gubahanmu yang tumpah-ruah di
segala media massa. Bukan, Nebula. Bukan hanya dari situ.
Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu jauh sebelum kau memproklamirkan dirimu adalah
Nebula. Aku mengenalmu lewat tulisanmu di timeline
sosial mediamu. Aku mengenalmu lewat tulisanmu di group-chat yang sama-sama kita ikuti. Aku mengenalmu lewat tulisanmu
di personal-chat kita sendiri. Aku
mengenalmu lewat tulisanmu yang kau kirim diam-diam, khusus untukku. Aku
mengenalmu lewat tulisanmu yang kau ikutkan dalam lomba kepenulisan, dan
menjadi pemenang.
Biar kuulang sekali lagi, Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu
jauh sebelum kau memproklamirkan dirimu
adalah Nebula. Aku sudah mengenalmu lewat tulisan-tulisanmu ketika kau bahkan
masih menjadi hamparan debu di semesta. Tentu, tidak ada apa-apanya dengan nebula.
Lantas sekarang, kau berkembang sedemikian pesat dan hebat. Dari debu semesta
menjadi nebula.
Nah, dalam hal ini, aku jelas lebih banyak tahu dari dirimu. Jadi, biar
kuterangkan padamu bagaimana prosesi detail transisimu dari debu semesta
menjadi nebula. Namun sebelumnya, bisakah aku berasumsi bahwa kau sudah tahu nebula adalah kerumunan
kabut penghasil bintang di semesta karena kau memilih nama instrumen semesta
itu jadi nama penamu? Ah, kurasa bisa, ya?
Baik, aku akan menjelaskan bagaimana nebula terbentuk. Nebula terbentuk
dari hamparan debu di semesta yang senantiasa bergerak secara masiv. Yang
menyebabkan debu-debu ini lantas membaur dengan gas yang juga ada di angkasa,
menjadikan energi yang dihasilkan kolaborasi ini berkali-kali lipat lebih besar
daripada saat mereka sendiri-sendiri –seperti konsep sinergi. Ya, debu dan gas
semesta ini bersinergi, bersatu hingga terciptalah kabut dengan energi tak
terhingga yang secara berkesinambungan memuntahkan pendaran-pendaran cahaya
baru yang biasa kita sebut bintang : nebula. Namun prosesi pemersatuan ini,
bukanlah mudah adanya, Nebula. Debu-debu semesta membutuhkan seluruh energinya
untuk menyatukan diri dengan gas dari angkasa. Kesalahan sedikit saja, atau
bahkan ke-tidak-maksimal-an nol koma sekian persen saja, bisa menjadikan mereka
gagal bersatu. Lantas keduanya meledak, berhamburan kemana-mana. Pertaruhan
yang luar biasa sekali, bukan?
Sampai disini, kau bukan hanya sudah paham, bukan, Nebula? Melainkan juga sudah
menerka filosofi apa yang akan kujabarkan dalam beberapa paragraf kedepan. Ya,
Nebula. Aku tau itu. Kan sudah kukatakan, aku mengenalmu. Sekalipun hanya dari
tulisan-tulisanmu, aku bisa membaca dengan amat jelas bahwa kau adalah tipe
yang senantiasa beberapa langkah lebih maju dengan lawanmu –dalam hal ini aku.
Aku bahkan yakin sekali, kau sudah bisa menebak siapa aku semenjak paragraf
keempat tulisan ini. Namun kau memutuskan terus membaca, padahal jadwalmu
begitu padat. Kenapa? Ah, kau pasti lebih dari sekedar penasaran, bukan? Ada
sesuatu, Nebula. Aku tahu itu. Aku mengenalmu.
Maka filosofi yang sudah kau analisa itupun, benar adanya, Nebula. Aku
memang akan menganalogikan proses pembentukan nebula itu sebagai proses
melejitnya karir menulismu. Dulu kau memang hanya debu semesta. Namun dengan
segenap usaha, kau pertemukan dirimu dengan gas angkasa. Lantas bertaruh
hidup-mati dengannya untuk melontarkan mimpi-mimpimu ke dunia nyata. Tidak
mudah, memang. Namun kau berhasil, Nebula! Kini, kau jadi nebula. Produsen
bintang-bintang yang senantiasa menerangi angkasa. Dan kau, sudah sepatutnya
berbangga akan hal itu.
Ah, tentu saja! Aku menepuk jidat untuk kedua kali. Masalah berbangga diri,
kita berdua sama hebatnya, bukan? Aku mengenalmu. Sekalipun hanya dari
tulisan-tulisanmu, aku bisa membaca dengan amat jelas bahwa kau adalah tipe yang
dengan senang hati memotivasi orang-orang di sekitarmu dengan kisah
keberhasilanmu. Bukan sombong. Kau hanya malas mencari contoh jauh-jauh –katamu.
Kau sudah sangat banyak berubah, Nebula. Dari yang hanya debu di semesta,
kini jadi nebula. Hei, tidakkah kau bertanya-tanya mengapa aku masih bisa
mengenalimu dari tulisan-tulisanmu padahal kau sudah berubah sedemikian banyak?
Ata kau malah sudah tahu penyebabnya? Ah, kurasa tidak. Kau tidak tahu
sebabnya. Sudah kukatakan, kan. Aku mengenalmu, sekalipun hanya dari
tulisan-tulisanmu.
Baiklah, akan kupaparkan padamu sebab aku masih mengenalimu dari
tulisan-tulisanmu dulu hingga sekarang sekalipun kau telah berubah begitu
besar. Barangkali, sebab ini pula sekaligus alasan kenapa aku mengirimkan surat
ini buatmu. Atau bahkan, ini juga sebab yang sama untuk alasan kenapa kau masih
melanjutkan membaca setelah tahu siapa aku ini.
Kuberitahu kau, Nebula. Tulisanmu, sedari dahulu, sejatinya tak pernah
berubah. Atau bahkan, selalu sama. Hey, kau boleh protes bahwa tulisanmu yang
sekaraang tentulah berbeda kualitasnya dengan yang dulu. Beda kelas, beda topik
, dan lain-lain. Kau boleh protes. Tapi nanti, dengarkan dulu pemaparanku
hingga selesai.
Tulisan-tulisanmu, Nebula. Sedari dulu. Entah di timeline media sosial, group-chat
yang kita ikuti, personal-chat kita pribadi,
surat-surat rahasia yang kau kirimi, bahkan untuk lomba yang kau menangi.
Hingga saat ini. Di buku-buku best seller-mu,
di artikel yang menjadi headline di
media massa, bahkan cuitanmu yang senantiasa jadi trending topic sosial media. Selalu kutemukan suatu unsur yang
sama. Amat kentara. Bukan, bukan gaya bahasa tentu saja. Ini unsur yang
berbeda. Tak akan disadari siapa-siapa kecuali dia mengetahui kisah ini : kisah
lama yang kita usaikan sendiri-sendiri, tapi nyatanya masih bercokol dalam
hati.
Kau tahu, Nebula. Aku menemukan diriku disetiap tulisanmu. Sedari dulu.
Hingga saat ini. Entah itu jadi tokoh utama, atau hanya sekedar perumpama.
Selalu ada aku di tiap tulisanmu ‘kan,
Nebula? Tidak ada lagi pura-pura. Kenyataannya, kau belum berhasil memaksaku
keluar dari istana megah tempat ide-idemu bersemayam. Aku masih jadi amunisi
paling mutakhir milikmu untuk menempatkan seluruh karyamu di jajaran teratas
segala media.
Ya, Nebula. Akhirnya, kuperkenalkan diriku : Orion.
Sisanya, silahkan kau simpulkan sendiri, ya. Kau tentunya jauh lebih ahli
ketimbang aku.
Sampai jumpa!
Dari : Orion
Perkataan Bintang
Assalamualaikum, fajar. Boleh aku
meminta waktumu sejenak untukku bercerita?
Begini. Aku sedang sebal dengan
seorang Bintang.
Alasannya? Sangat sederhana.
Sebab ia dengan berani-beraninya menyampaikan kabar akan kedatangan Bumi ke sisi-sisi langitku.
Membuat aku yang tengah kewalahan
menyambut kedatangan salju di kerakku, menyempat-nyempatkan waktu untuk
menengoknya. Dan mempersiapkan diri pula untuk ditengoknya.
Kau tahu, aku bahkan membuat sebuah puisi. Puisi. Buatnya.
Judulnya ‘Pertemuan’.
Haha. Nista, ya? Menyadari betapa aku mendamba suatu pertemuan, yang bahkan informasi mengenainya masih bisa dikategorikan hoax. Tidak pasti. Tidak jelas. Namun masih sanggup membuatku begitu berharap.
Harap ini, aku tak tahu sebabnya. Bahkan aku sendiri tak tahu darimana asalnya, dan bagaimana datangnya.
Yang aku tahu. Aku sudah bertekad
melupakan dia. Dan kurasa, sudah berhasil pula melupakan dia.
Tapi kenapa, masih berharap? Masih mendamba jumpa? Sampai-sampai membuat puisi segala.
Tapi kenapa, masih berharap? Masih mendamba jumpa? Sampai-sampai membuat puisi segala.
Dan tentu saja. Cerita ini klise. Klasik. Retoris. Tertebak akhirnya.
Bumi tidak datang. Atmosfer kami tak
bersisian.
Maka kusimpulkan, Bintang itu berdusta.
Fajar, sebenarnya batas antara acuh dengan rindu itu apa? Kenapa makin kemari, makin tak jelas aku memaknainya? Kenapa batas itu semakin kabur?
Aku tidak mengerti, fajar.
Sebenarnya apa mau semesta? Aku ini sudah lupa, atau masih suka? Kenapa jadi
tak teranalisa?
Sebetulnya, sejak entah berapa purnama belakangan ini (lebih tepatnya sejak bagian keenam tulisan ini), aku memang yakin bahwa aku sudah tak punya rasa. Malah, aku sampai bisa menjadikannya bahan bercanda. Yah, meski kuakui, dia masih menjadi tokoh utama di hampir semua tulisanku.
Namun sudah dua minggu ini, entah mengapa topik-topik tentangnya menjadi sensitif lagi buat telingaku. Kabar-kabar mengenainya, mengundang dahaga buatku. Bahkan aku sampai ragu, sebenarnya Bintang itu yang mengabariku, atau aku yang menggali-gali kabar padanya.
Jadi, fajar. Kuulang lagi pertanyaanku.
Sebenarnya apa mau semesta? Aku
ini sudah lupa, atau masih suka?
Kata seorang Bintang yang lain, aku memang tak pernah berhenti merasa padanya. Bahkan, aku belum pernah berusaha untuk memberhentikannya.
Yang lantas membuat aku merenung
sendiri.
Kuulang kembali tanya-tanyaku tadi
Sebenarnya apa mau semesta? Aku ini sudah lupa, atau masih suka?
01/02/’17
Dieny A.
Langganan:
Postingan (Atom)